Langsung ke konten utama

Bakul Wedang - Coffee Latte & Irish Cream Coffee

Sore ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Bakul Wedang Coffee Shop di komplek Perum Permata Hijau, kawasan perumahan yang elite di Purwokerto. Segera saya memesan coffee latte dan Irsish Cream yang konon menurut ceritanya, Bakul Wedang mengunakan biji kopi pilihan racikan Illy yang terkenal itu sebagai basic menu mereka. Pertanyaan yang mungkin akan muncul adalah: "mengapa bukan espresso yang bang. Sonny pilih ?" - yaaa saya akan menjawab, saya sering mencoba espresso dengan biji dari produk Illy dan pada umumnya hampir sama dengan beberapa coffee shop yang menggunakannya dibeberapa kota dimana saya icip-icip disana, yaitu "susah mencari kesempurnaan" dari biji kopi yang dibilang oleh orang-orang sebagai jaminan mutu mek kopi kelas dunia, alasannya karena barista dan penikmatnya kurang rewel terhadap pemrosesan yang text book bingiiit. Hal ini saya setujui sebagaimana pernyatan penulis yang sudah berpengalaman dengan Illy secara text book.
[baca: https://groups.google.com/forum/#!topic/milis-jalansutra/H3sfhqVGbzs]

Tidak sampai 10 menit pesanan pertama saya-pun datang, setelah jeprat-jepret menggunakan BB Curve jadoel ku, saya segera menikmati pesanan saya tersebut. 

Coffee Latte
 
Froted milk yang saya temukan pada segelas cangkir medium tersebut soft dan kental hampir seperti foam buat cunkur kumis. Untuk rasa lattenya, saya menemukan rasa latte ini bitternya sangat lembut, jadi mirip cafe aulait, entah berapa banding berapa kombinasinya, akan tetapi saya merasa meminum cafe aulait dibanding dengan minum coffee latte. Sedangkan untuk latte artnya, sepertinya ada dua kemungkinan, yang pertama, Baristanya baru belajaran, atau yang kedua baristanya memang tidak tahu cara membuat latte art. Kalau dibandingkan dengan beberapa kenalan saya yang baru belajar jadi barista 3 bulanan, saya menemukan banyak dari mereka lebih bagus dalam latte artnya.

Irish Cream Coffee

Sajian menu yang deua ini mirip sekali pembuatannya dengan menu yang pertama, dan rasa yang saya dapatkan adalah mirip lagi cafe aulait hanya sedikit ada aroma Irish Cream, yang seharusnya lebih dominant terasa daripada rasa susunya.

Secara personal penilaian saya bagii cafe ini, adalah sebagai berikut: 

Menu: 

Diperlukan riset yang lebih dalam lagi untuk perbedaan rasa antara latte, cafe aulait, dan kopi susu. Untuk masalah forthed milknya, sudah oke jadi layak untuk dipertahankan. untuk latte artnya, para barista di Bakul Wedang, mungkin bisa belajar dan berlatih lebih lagi, karena pesan gambar yang anda sajikan, tidak cukup menarik bagi saya [entah bagi yang lain].

Suasana :

Pemilihan musik yang di mainkan cenderung up beat bahkan rock [sempat ada dangdut koplonya juga sih], sehingga saya merasa tidak tenang dan nyaman dalam menikmati kopi, melainkan seperti di buat terjaga dan siap bekerja, sehingga lalu lalang server serta para pekerja yang lain jadi semakin terasa menambah "distraksi" terhadap kenyamanan saya. Untuk keramahan mereka cukup ramah, akan tetapi tidak cukup kuat untuk membangun komunikasi, sehingga mereka dapat menanamkan brand positioning kedalam otak saya akan kelebihan-kelebihan pelayanan dan produk mereka.

Conclusion:

Okelah Bakul Wedang, adalah tempat yang cocok bagi kumpul-kumpul mereka yang ingin menikmati kopi atau menu lainnya dan tidak merasa terganggu dengan teriakan para pemain futsal, serta deru musik up beat pilihan mereka [note: saya tidak tahu apakah hanya kebetulan ketika saya disana, atau memang itu sudah jd program musik yang harus mereka putar].

Bakul Wedang harus meningkatkan kualitas proses penyiapan menu supaya kualitas dari Illy bisa menonjol dan kuat terasa di lidah para pecintanya.


Postingan populer dari blog ini

SEJARAH MESIN KOPI

Kali ini saya mencoba menulis mengenai sejarah beberapa mesin espresso, yang saya ambil dari berbagai sumber. Semoga dapat membantu memperkaya pengetahuan kita bersama. Pada tahun 1884 usaha untuk pengajuan hak paten pertama kali diperjuangkan  oleh Angelo Moribondo yang berasal dari Turin dan diperkenalkan pada tahun yang sama, dalam Pameran Umum di Taman Valentino. Hal tersebut adalah sebuah berkah untuk industrialisasi mesin espresso pada waktu itu, akan tetapi hak patent mesin espresso dalam dunia industrial mesin kopi pertama kali diterbitkan bagi Luigi Bezzera dari Milan, pada tahun 1901,. Bahkan, ia membuat suatu model atau design mesin yang kemudian menjadi model yang ditiru secara luas, di atas semua model mesin espresso rancangan pelopor lain dari periode, Desiderio Pavoni, yang mampu melihat potensi besar dari espresso, serta berjuang mengembangkan penjualan di bar publik dan kafe . Pada awal 1900-an, Pier teresio Arduino dari Turin menyadari bahwa dunia bar publi...

KOPI "clebek" TUBRUK

Kopi Tubruk Kopi Tubruk adalah salah satu metode yang paling sering digunakan dalam menyeduh kopi di tanah air ini. di Banyumas dan sekitarnya dikenal dengan kopi "clebek" yang metodenya adalah menubrukan bubuk kopi dengan air panas.  Akan tetapi kopi tubruk  atau clebek, dapat juga menjadi hidangan minuman yang istimewa, jika dilakukan dengan langkah-langkah yang benar.  Proses brewing   Persiapkan kopi yang telah menjadi bubuk. Untuk mendapatkan aroma kopi yang lebih fresh, biji kopi matang sebaiknya digiling pada saat anda akan menyeduh. Selanjutnya masukan bubuk kopi kedalam cangkir. Takaran yang ideal dalam kopi tubruk adalah 12 gram kopi (sekitar dua sendok teh) untuk setiap 200 ml air. Kemudian tuangkan air yang telah anda didihkan. Suhu yang paling pas untuk kopi tubruk adalah sekitar 80-85 °C. Jika anda tidak memiliki thermometer, masak air dengan durasi 2 menit. Setelah anda menuangkan air pada gelas yang sebelumnya telah berisi bubuk k...

LATARAN MARIJEM - COFFEE - BOOKS AND MUSIC

Pada waktu saya pertama kali berjumpa dengan mas Yadi, saya mendapatkan pemaparan yang unik mengenai konsep bisnis kedai kopi yang dia perjuangkan. Kombinasi antara jiwa seni dan aliran pemikiran bisnis yang dia miliki cukup memberikan saya banyak wacana baru mengenai design interior dan kekuatan dari keserdehanaan, serta kemampuan meng-create deman pada pasar yang bersumber dari komunitas-komunitas yang dia miliki. Ketajaman visi bisnisnya pun saya akui dengan keberaniannya menantang arus utama mengenai syarat lokai usaha yang harus ramai dan sebagainya, tetapi mas Yadi dan teman-teman membangun usahanya di pojokan belakan sebuah komplek pertokoan yang banyak orang berpikir mengalami gagal marketing, akan tetapi pada saat soft opening kemarin menunjukan bahwa ide-ide marketing mereka yang memanfaatkan kedahsyatan sosial media membuktikan bahwa jaman modern saat ini batasan ruang tidaklah terlalu berpengaruh, lagi. Full live music dan situasional yang mirip di cafe-cafe kelas me...