Langsung ke konten utama

GREEN TEA LATTE - WAKE CUP MORO

Setelah dua kali mencoba menu green tea latte sajian Wake Cup Coffee Moro Grocier Purwokerto, saya baru berani menuliskan beberapa review menu yang saya nik mati pelan-pelan seteguk demi seteguk dan perbedaan suhu green latte tersebut dalam tahapan yang berbeda. Review ini bukan dari seorang cupping specialist, melainkan hanya dari seorang penyuka kopi dan tukang jajan yang parah sekali.



Untuk tampilan, warna hijau daun teh yang dikombinasi dengan latte art menawan hasil karya Zainal [Wake Cup Slipi - Jakarta] dan beberapa hari berikutnya dari Anggit B [Wake Cup Moro] - adalah sesuatu yang cukup menawan dan menarik, bahkan saya dengan anak-anak hanya cukup lama memandangi karena sayang dengan pemandangan cantik tersebut untuk di rusak dengan tea spon atau ke garangan Angello dalam "menyruuuput" minuman tersebut. Akan tetapi kami sepakat untuk menulis bahwa Gelas yang dipakai, tidak terlalu mendukung kecantikan si green latte. Yaaa... suatu hari kelak saya harap ada up-grade pada gelas penyaji bagi Wake Cup Green Latte mereka, supama menjadi tidak sekedar cantik, melainkankan juga menjadi "SEXY".

Untuk rasa, Green Tea Latte yang berbahan dasar Macha / powder tea ini sangat kuat menampilkan rasa daun teh hijau alami yang khas, atmosfer naturalnya bahkan terasa ketika uapnya di hirup pelan beberapa detik setelah waktu proses penyeduhan, aroma yang muncul dapat membuat kita nyaman, kekentalannya seduhan macha bercampur susu cukup unik juga.

Dengan harga berkisar 23k - 25k tergantung variannya, green tea latte hasil garapan para barista di Wake Cup Moro Purwokerto pantas untuk dibeli dan dinikmati ana bersama dengan keluarga atau sahabat. Tersedia juga rasa Taro [pingin nyoba ini kapan-kapan], dll.

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH MESIN KOPI

Kali ini saya mencoba menulis mengenai sejarah beberapa mesin espresso, yang saya ambil dari berbagai sumber. Semoga dapat membantu memperkaya pengetahuan kita bersama. Pada tahun 1884 usaha untuk pengajuan hak paten pertama kali diperjuangkan  oleh Angelo Moribondo yang berasal dari Turin dan diperkenalkan pada tahun yang sama, dalam Pameran Umum di Taman Valentino. Hal tersebut adalah sebuah berkah untuk industrialisasi mesin espresso pada waktu itu, akan tetapi hak patent mesin espresso dalam dunia industrial mesin kopi pertama kali diterbitkan bagi Luigi Bezzera dari Milan, pada tahun 1901,. Bahkan, ia membuat suatu model atau design mesin yang kemudian menjadi model yang ditiru secara luas, di atas semua model mesin espresso rancangan pelopor lain dari periode, Desiderio Pavoni, yang mampu melihat potensi besar dari espresso, serta berjuang mengembangkan penjualan di bar publik dan kafe . Pada awal 1900-an, Pier teresio Arduino dari Turin menyadari bahwa dunia bar publi...

KOPI "clebek" TUBRUK

Kopi Tubruk Kopi Tubruk adalah salah satu metode yang paling sering digunakan dalam menyeduh kopi di tanah air ini. di Banyumas dan sekitarnya dikenal dengan kopi "clebek" yang metodenya adalah menubrukan bubuk kopi dengan air panas.  Akan tetapi kopi tubruk  atau clebek, dapat juga menjadi hidangan minuman yang istimewa, jika dilakukan dengan langkah-langkah yang benar.  Proses brewing   Persiapkan kopi yang telah menjadi bubuk. Untuk mendapatkan aroma kopi yang lebih fresh, biji kopi matang sebaiknya digiling pada saat anda akan menyeduh. Selanjutnya masukan bubuk kopi kedalam cangkir. Takaran yang ideal dalam kopi tubruk adalah 12 gram kopi (sekitar dua sendok teh) untuk setiap 200 ml air. Kemudian tuangkan air yang telah anda didihkan. Suhu yang paling pas untuk kopi tubruk adalah sekitar 80-85 °C. Jika anda tidak memiliki thermometer, masak air dengan durasi 2 menit. Setelah anda menuangkan air pada gelas yang sebelumnya telah berisi bubuk k...

LATARAN MARIJEM - COFFEE - BOOKS AND MUSIC

Pada waktu saya pertama kali berjumpa dengan mas Yadi, saya mendapatkan pemaparan yang unik mengenai konsep bisnis kedai kopi yang dia perjuangkan. Kombinasi antara jiwa seni dan aliran pemikiran bisnis yang dia miliki cukup memberikan saya banyak wacana baru mengenai design interior dan kekuatan dari keserdehanaan, serta kemampuan meng-create deman pada pasar yang bersumber dari komunitas-komunitas yang dia miliki. Ketajaman visi bisnisnya pun saya akui dengan keberaniannya menantang arus utama mengenai syarat lokai usaha yang harus ramai dan sebagainya, tetapi mas Yadi dan teman-teman membangun usahanya di pojokan belakan sebuah komplek pertokoan yang banyak orang berpikir mengalami gagal marketing, akan tetapi pada saat soft opening kemarin menunjukan bahwa ide-ide marketing mereka yang memanfaatkan kedahsyatan sosial media membuktikan bahwa jaman modern saat ini batasan ruang tidaklah terlalu berpengaruh, lagi. Full live music dan situasional yang mirip di cafe-cafe kelas me...