Langsung ke konten utama

Le Mindoni Cup & Paper

Saya mencari tempat ngopi "kedai" yang memiliki Brand Value bukan hanya di menu kopinya tetapi juga memiliki pesan jelas bahwa hanya dia yang unik dan jika saya tidak disana saya tidak bisa menikmati kombinasi menu kopi yang enak dari biji house blend mereka dengan kepuasan psikologis karena saya bisa ngopi di tepi jalan dengan situasi yang cukup tenang seperti situasi Jogjakarta 25 tahun lalu.

Le Mindoni Cup & Paper ..... hem entah ini bahasa Italia atau bahasa Spanyol atau plesetan dari bahasa Jawa yang pasti saya belum mendapatkan artinya atau definisinya dari p.i.c waktu itu, karena kesibukan mereka melayani para pelanggan.

Tenang di tengah bisingnya Jogja
Le Mindoni Cup & Paper yang berada disekitar white paal alias tugu Jogja mungkin dapat dikatakan mendekati dari kriteria yang saya cari tadi. Dan dari pemantauan saya selama hampir 1 jam di area out door mereka ketenangan dan kenyamanan cukup lumayan, walau sekali-kali ada "walau jarang"  beberapa Ali Topan tjap Jogja yang lalu lalang dengan knalpot bodol mereka.

Untuk Menu
Le Mindoni Cup & Paper menawarkan beberapa menu kopi, teh dan meal, petang hingga malam itu saya dan Momoy-Q memilih Double Shot Espresso "Gayo Toraja", Picolo, dan Black Tea dari Lipton. Untuk mealnya kami memilih Cheese Wing & Creamy Mashroom. 

Overall lumayan juga Le Mindoni Cup and Paper, kami cukup senang disini, dan tentu saja mendapat referensi tempat pacaran di Jogjakarta yang lumayan ok, dan membawa saya pada situasi Jogjakarta 25 tahunan lalu.

Sonny

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH MESIN KOPI

Kali ini saya mencoba menulis mengenai sejarah beberapa mesin espresso, yang saya ambil dari berbagai sumber. Semoga dapat membantu memperkaya pengetahuan kita bersama. Pada tahun 1884 usaha untuk pengajuan hak paten pertama kali diperjuangkan  oleh Angelo Moribondo yang berasal dari Turin dan diperkenalkan pada tahun yang sama, dalam Pameran Umum di Taman Valentino. Hal tersebut adalah sebuah berkah untuk industrialisasi mesin espresso pada waktu itu, akan tetapi hak patent mesin espresso dalam dunia industrial mesin kopi pertama kali diterbitkan bagi Luigi Bezzera dari Milan, pada tahun 1901,. Bahkan, ia membuat suatu model atau design mesin yang kemudian menjadi model yang ditiru secara luas, di atas semua model mesin espresso rancangan pelopor lain dari periode, Desiderio Pavoni, yang mampu melihat potensi besar dari espresso, serta berjuang mengembangkan penjualan di bar publik dan kafe . Pada awal 1900-an, Pier teresio Arduino dari Turin menyadari bahwa dunia bar publi...

KOPI "clebek" TUBRUK

Kopi Tubruk Kopi Tubruk adalah salah satu metode yang paling sering digunakan dalam menyeduh kopi di tanah air ini. di Banyumas dan sekitarnya dikenal dengan kopi "clebek" yang metodenya adalah menubrukan bubuk kopi dengan air panas.  Akan tetapi kopi tubruk  atau clebek, dapat juga menjadi hidangan minuman yang istimewa, jika dilakukan dengan langkah-langkah yang benar.  Proses brewing   Persiapkan kopi yang telah menjadi bubuk. Untuk mendapatkan aroma kopi yang lebih fresh, biji kopi matang sebaiknya digiling pada saat anda akan menyeduh. Selanjutnya masukan bubuk kopi kedalam cangkir. Takaran yang ideal dalam kopi tubruk adalah 12 gram kopi (sekitar dua sendok teh) untuk setiap 200 ml air. Kemudian tuangkan air yang telah anda didihkan. Suhu yang paling pas untuk kopi tubruk adalah sekitar 80-85 °C. Jika anda tidak memiliki thermometer, masak air dengan durasi 2 menit. Setelah anda menuangkan air pada gelas yang sebelumnya telah berisi bubuk k...

LATARAN MARIJEM - COFFEE - BOOKS AND MUSIC

Pada waktu saya pertama kali berjumpa dengan mas Yadi, saya mendapatkan pemaparan yang unik mengenai konsep bisnis kedai kopi yang dia perjuangkan. Kombinasi antara jiwa seni dan aliran pemikiran bisnis yang dia miliki cukup memberikan saya banyak wacana baru mengenai design interior dan kekuatan dari keserdehanaan, serta kemampuan meng-create deman pada pasar yang bersumber dari komunitas-komunitas yang dia miliki. Ketajaman visi bisnisnya pun saya akui dengan keberaniannya menantang arus utama mengenai syarat lokai usaha yang harus ramai dan sebagainya, tetapi mas Yadi dan teman-teman membangun usahanya di pojokan belakan sebuah komplek pertokoan yang banyak orang berpikir mengalami gagal marketing, akan tetapi pada saat soft opening kemarin menunjukan bahwa ide-ide marketing mereka yang memanfaatkan kedahsyatan sosial media membuktikan bahwa jaman modern saat ini batasan ruang tidaklah terlalu berpengaruh, lagi. Full live music dan situasional yang mirip di cafe-cafe kelas me...